D. Khalifah Ali bin Abi Talib
Ali bin Abi Talib lahir pada 13 Rajab 600 Masehi di Makkah dari Bani Hasyim, suku yang sama dengan Rasulullah saw. Ayahnya adalah Abu Talib, paman Rasulullah saw. yang selalu membela Islam, sementara ibunya adalah Fatimah binti Asad. Ali merupakan sepupu Rasulullah saw. dan salah satu yang pertama masuk Islam, bahkan sejak masih anak-anak. Ali tumbuh dalam didikan langsung Rasulullah saw., sehingga memiliki ilmu agama yang mendalam. Beliau juga memiliki pemikiran yang tajam dan bijaksana, sehingga Rasulullah saw. menjulukinya sebagai “Bābul ‘Ilmī” (Gerbang Ilmu).
1. Proses Pemilihan Khalifah Ali bin Abi Talib
Setelah wafatnya Khalifah Usman bin Affan pada tahun 35 Hijriah/656 Masehi, umat Islam menghadapi krisis politik. Banyak pihak menginginkan Ali bin Abi Talib untuk menjadi Khalifah karena ilmunya yang luas, keberanian, serta hubungannya yang dekat dengan Rasulullah saw. Para sahabat dan penduduk Madinah akhirnya membaiat Ali bin Abi Talib sebagai Khalifah keempat.
Kepemimpinan Ali bin Abi Talib menghadapi tantangan besar karena banyak sahabat yang menuntut keadilan atas wafatnya Usman bin Affan. Mereka menginginkan kasus pembunuhan Usman bin Affan terungkap sebelum mengakui kepemimpinan Ali. Salah seorang yang paling menuntut keadilan atas wafatnya Khalifah Usman adalah Muawiah bin Abi Sufyan, gubernur Syam, yang juga kerabat Usman bin Affan.
Desakan untuk segera mengungkap kasus pembunuhan Usman bin Affan tidak hanya datang dari pihak luar, tetapi juga dari sahabat terdekat yang awalnya mendukung Khalifah Ali. Sebagian sahabat seperti Talhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam yang awalnya mendukung, akhirnya menentang kekhalifahan Ali bin Abi Talib karena merasa bahwa Ali harus segera menghukum para pembunuh Usman sebelum mengatur pemerintahan.
Adapun Ali bin Abi Talib berpendapat bahwa pengungkapan dan penghukuman para pembunuh Usman bin Affan perlu ditunda untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut dan menjaga persatuan umat. Perbedaan pandangan ini menyebabkan terjadinya beberapa peristiwa besar yang mengguncang dunia Islam seperti Perang Jamal dan Perang Sifin.
2. Substansi dan Strategi Dakwah Khalifah Ali bin Abi Talib
Khalifah Ali bin Abi Talib dihadapkan pada banyak fitnah dan peperangan selama masa kepemimpinannya, namun beliau tetap tegak memimpin dan mempertahankan Islam serta persatuan umat. Khalifah Ali dikenal dengan kebijakannya dalam memberantas korupsi di kalangan pejabat dan mengganti pejabat yang dinilai tidak adil atau menyalahgunakan wewenang. Substansi dakwahnya meliputi penerapan ilmu dalam memahami Islam, keadilan dalam pemerintahan, serta semangat persatuan dalam menghadapi perpecahan umat. Ali bin Abi Talib memimpin umat Islam selama kurang lebih 5 tahun dalam situasi yang penuh dengan konflik. Meskipun demikian, beliau tetap menjalankan berbagai kebijakan penting untuk menjaga keutuhan umat Islam. Kebijakan atau strategi dakwah Khalifah Ali bin Abi Talib meliputi:
a. Reformasi Pemerintahan
Ali mengganti beberapa gubernur yang tidak adil dan terlalu berpihak pada kepentingan keluarga. Keputusan ini memicu perlawanan dari gubernur yang diberhentikan, terutama Muawiah bin Abi Sufyan yang merupakan gubernur Syam.
b. Menegakkan Keadilan
Ali bin Abi Talib menolak sistem nepotisme dan lebih memilih pejabat yang adil serta kompeten. Beliau memastikan bahwa rakyat mendapatkan hak mereka secara adil, tanpa memihak kelompok tertentu.
c. Meningkatkan Ilmu Pengetahuan dan Menegakkan Hukum Islam
Ali bin Abi Talib dikenal sebagai salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadis dan memiliki pemahaman mendalam tentang hukum Islam. Beliau sering memberikan fatwa dan keputusan hukum yang menjadi dasar Fikih Islam hingga saat ini.
3. Ibrah Kepemimpinan Khalifah Ali bin Abi Talib
Kekhalifahan Ali bin Abi Talib berlangsung selama kurang lebih 5 tahun, yaitu sejak tahun 656 – 661 Masehi atau 35 – 40 Hijriah. Masa kepemimpinannya diwarnai dengan ujian berat yang bahkan berlanjut setelah Perang Sifin, termasuk kemunculan kelompok Khawarij. Kelompok khawarij adalah golongan yang kecewa dengan keputusan tahkim antara Ali bin Abi Talib dan Muawiah bin Abi Sufyan. Mereka menganggap bahwa Ali dan Muawiah sama-sama bersalah karena menerima tahkim dalam urusan kepemimpinan Islam. Pada 19 Ramadan 40 Hijriah/ 661 Masehi, Ali bin Abi Talib terluka oleh Abdurrahman bin Muljam, seorang anggota kelompok Khawarij saat sedang salat Subuh di Masjid Kufah. Dua hari kemudian Ali wafat pada usia 63 tahun.
Ibrah utama dari kepemimpinan Ali bin Abi Talib adalah pentingnya menegakkan kebenaran meskipun dalam keadaan sulit. Keteguhan Ali dalam menjalankan hukum Islam menjadi bukti tanggung jawab beliau sebagai pemimpin umat. Lebih dari itu, Ali mengajarkan bahwa kepemimpinan yang bijak harus dilandasi dengan keilmuan yang mendalam, kearifan dalam menyelesaikan konflik, dan komitmen menjaga persatuan umat. Nilai-nilai luhur seperti kesabaran dan kecermatan dalam mengambil keputusan pun tercermin dalam setiap langkahnya, dan menjadi teladan yang berharga bagi generasi muslim selanjutnya.
Sumber buku : Fifi Nur Rokhmah. (2025). Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X . Kementerian Agama RI.