A. Khalifah Abu Bakar Sidik
Abu Bakar Sidik yang memiliki nama asli Abdullah bin Abu Quhafah, lahir pada tahun 573 Masehi di Makkah, dua tahun setelah kelahiran Rasulullah saw. Beliau berasal dari suku Quraisy Bani Taim, salah satu suku terpandang di Makkah. Abu Bakar dikenal sebagai pedagang yang sukses, jujur, dan dihormati oleh masyarakat. Setelah mendengar dakwah Rasulullah saw., Abu Bakar segera menerima Islam tanpa keraguan sedikitpun, sehingga ia menjadi laki-laki dewasa pertama yang masuk Islam atas ajakan Rasulullah saw. Keimanan dan keteguhan Abu Bakar dalam menerima risalah Islam, menjadikan Rasulullah saw. memberinya gelar “Sidik” berarti "yang membenarkan", sebab ia selalu membenarkan sabda Rasulullah saw., terlebih saat peristiwa Isra Mikraj. Banyak orang yang saat itu meragukan kebenaran Isra Mikraj karena menurut mereka peristiwa tersebut tidak masuk akal. Abu Bakar Sidik tanpa keraguan langsung mempercayai peristiwa Isra Mikraj yang dialami oleh Rasulullah saw. Bagi Abu Bakar, segala perkataan yang datang dari Rasulullah saw. adalah sebuah kebenaran yang tidak perlu diragukan.
1. Proses Pemilihan Khalifah Abu Bakar Sidik
Setelah wafatnya Rasulullah saw. pada 12 Rabiulawal 11 Hijriah/632 Masehi, umat Islam menghadapi tantangan besar dalam menentukan pemimpin pengganti beliau. Rasulullah saw. tidak menunjuk langsung siapa yang akan menggantikan beliau sebagai kepala negara dan pemimpin umat, sehingga para sahabat segera bermusyawarah untuk memilih pemimpin yang akan meneruskan kepemimpinan Islam. Proses pemilihan Abu Bakar Sidik sebagai khalifah melalui dua tahap yaitu Baiat Saqifah dan Baiat al-‘Āmmah.
a. Baiat Saqifah
Setelah Rasulullah saw. wafat, kaum Ansar dari suku Aus dan Khazraj segera berkumpul di Saqifah bani Saidah, sebuah tempat di Madinah yang biasa digunakan untuk pertemuan. Mereka bermusyawarah untuk membahas siapa yang layak menjadi pemimpin umat Islam. Kaum Ansar berpendapat bahwa mereka memiliki hak untuk memimpin, karena mereka telah melindungi dan menolong Rasulullah saw. serta kaum Muhajirin saat hijrah ke Madinah. Salah satu tokoh Ansar, Saad bin Ubadah dicalonkan menjadi khalifah pengganti Rasulullah saw. Saat berita ini sampai kepada kaum Muhajirin, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah segera menuju Saqifah untuk mengikuti perundingan. Ketika tiba di Saqifah, Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Jarrah menyampaikan pendapat bahwa pemimpin umat Islam sebaiknya berasal dari kaum Quraisy, karena mereka adalah suku Rasulullah saw. Abu Bakar Sidik juga memiliki pendapat yang sama, dan kemudian ia berkata:
“Wahai kaum Ansar, sesungguhnya kalian adalah orang-orang yang paling berjasa dalam membantu Islam dan tidak ada yang mengingkari hal itu. Namun dalam kepemimpinan, Quraisy lebih layak karena mereka adalah keluarga Rasulullah saw. dan memiliki hubungan yang erat dengan kaum muslimin lainnya.”
Pada awalnya sempat terjadi ketegangan antara Kaum Ansar dan Kaum Muhajirin, bahkan mereka hampir pecah hanya karena berbeda pendapat dalam memilih seorang pemimpin. Namun akhirnya melalui musyawarah yang panjang, semuanya diberi kelapangan hati untuk saling menerima pendapat satu sama lain. Hasil musyawarah menyepakati bahwa kepemimpinan umat Islam sepeninggal Rasulullah saw. dilanjutkan oleh Kaum Muhajirin. Dengan segala kerendahan hati, Kaum Ansar merelakan kepemimpinan Madinah dipegang oleh Kaum Muhajirin, demi mewujudkan masyarakat yang damai dan bersatu. Sikap Kaum Ansar menunjukkan bahwa cinta tanah air tidak harus diukur dengan kekuasaan, namun dapat diwujudkan dengan kontribusi yang nyata bagi perdamaian.
Setelah diputuskan bahwa calon pemimpin berasal dari kaum Muhajirin, Abu Bakar Sidik mengusulkan Umar bin Khattab atau Abu Ubaidah bin Jarrah sebagai pemimpin, namun keduanya menolak dan Umar bin Khattab justru mengangkat tangan Abu Bakar untuk membaiatnya sebagai khalifah. Umar berkata: “Demi Allah, tidak ada orang yang lebih layak memimpin kita selain Abu Bakar, karena dialah orang yang pertama kali masuk Islam dan yang selalu mendampingi Rasulullah saw. dalam setiap perjuangan.”
Mendengar hal ini, seluruh kaum muslimin yang hadir di Saqifah Bani Saidah menyetujui dan membaiat Abu Bakar sebagai khalifah. Abu Bakar Sidik menjadi khalifah pertama yang memimpin umat Islam setelah wafatnya Rasulullah saw.
b. Baiat al-‘Āmmah
Baiat kepada Abu Bakar Sidik di Saqifah Bani Saidah belum bersifat umum, karena hanya melibatkan sebagian sahabat. Untuk memastikan seluruh umat Islam menerima kepemimpinan Abu Bakar, keesokan harinya dilakukan baiat secara resmi di Masjid Nabawi. Di hadapan kaum muslimin, Abu Bakar Sidik menyampaikan pidato pertamanya sebagai khalifah. “Wahai manusia, aku telah diangkat sebagai pemimpin kalian, padahal aku bukan yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik maka tolonglah aku, dan jika aku berbuat buruk maka luruskanlah aku.”
Isi pidato tersebut menunjukkan sikap rendah hati Abu Bakar Sidik dan komitmennya untuk bersama-sama masyarakat menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Setelah turun dari mimbar dan selesai menyampaikan pidatonya, seluruh kaum muslimin yang hadir di Masjid Nabawi membaiat Abu Bakar Sidik, dan secara resmi ia menjadi khalifah pertama dalam Islam. Baiat ini disebut sebagai Baiat al-‘Āmmah, yaitu baiat yang dilakukan oleh masyarakat umum untuk mengakui kepemimpinan seseorang.
Proses pemilihan Abu Bakar Sidik sebagai khalifah terjadi melalui musyawarah dan baiat, bukan dengan perebutan kekuasaan. Peristiwa Baiat Saqifah menunjukkan adanya musyawarah dan negosiasi antara kaum Ansar dan Muhajirin, sementara Baiat al-‘Āmmah di Masjid Nabawi mengesahkan Abu Bakar sebagai pemimpin yang diterima oleh seluruh umat Islam. Pemilihan Abu Bakar menjadi khalifah memberikan ibrah tentang pentingnya musyawarah dalam Islam, serta mencontohkan bagaimana seorang pemimpin yang rendah hati dan berkomitmen untuk menegakkan keadilan.
2. Substansi dan Strategi Dakwah Khalifah Abu Bakar Sidik
Substansi dakwah Khalifah Abu Bakar Sidik fokus pada penguatan akidah, memberantas kemurtadan dan menjaga kesatuan umat Islam. Saat menjadi khalifah, Abu Bakar dihadapkan pada tantangan besar yang mengancam keutuhan umat Islam. Beliau mengambil kebijakan strategis untuk menjaga kesatuan dan memperluas dakwah Islam. Adapun strategi dakwah Khalifah Abu Bakar Sidik yaitu:
a. Mengatasi Gerakan Orang-orang Murtad dan Tidak Membayar Zakat Setelah wafatnya Rasulullah saw., banyak suku Arab yang murtad dan menolak membayar zakat. Abu Bakar menegaskan bahwa zakat adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, dan ia mengirim pasukan dalam perang Ridah untuk memerangi kaum murtad agar Islam tetap berdiri tegak.
b. Memerangi Nabi Palsu Dalam Islam, ditegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. adalah nabi terakhir atau penutup dari segala nabi dan rasul (khatamul-anbiyā’ wal mursalīn). Setelah wafatnya Rasulullah saw., ternyata ada beberapa orang yang mengaku sebagai nabi, seperti Musailamah Kazzab, Tulaihah al-Asadi, dan Sajah. Munculnya nabi palsu menodai kemurnian ajaran Islam, sehingga Khalifah Abu Bakar mengambil tindakan tegas dengan mengutus panglima Islam, seperti Khalid bin Walid untuk memerangi mereka. Perang Yamamah menjadi bukti perjuangan Abu Bakar dan umat Islam melawan kemurtadan dan nabi palsu yang bernama Musailamah Kazzab. Dalam perang ini, banyak umat Islam yang syahid, termasuk para penghafal Al-Qur’an. Peristiwa ini memberikan pelajaran bahwa kemurnian ajaran Islam harus selalu diperjuangkan sampai akhir kehidupan.
c. Ekspedisi Militer ke Wilayah Perbatasan Dalam rangka memperluas dakwah dan mempertahankan wilayah Islam dari ancaman luar, Abu Bakar mengirim pasukan ke Syam dan Persia. Beliau melanjutkan misi yang telah direncanakan oleh Rasulullah saw., yaitu mengirim pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid untuk melawan kekaisaran Bizantium.
d. Kodifikasi Al-Qur’an Dalam Perang Yamamah, banyak penghafal Al-Qur’an yang syahid. Umar bin Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar Sidik untuk melakukan kodifikasi Al-Qur’an, yaitu mengumpulkan lembaran-lembaran Al-Qur’an menjadi satu agar tidak hilang dan bisa dipelajari oleh generasi selanjutnya. Abu Bakar kemudian membentuk tim yang dipimpin oleh Zaid bin Tsabit untuk menghimpun ayat-ayat Al-Qur’an.
3. Ibrah Kepemimpinan Khalifah Abu Bakar Sidik
Abu Bakar Sidik menjadi khalifah selama 2 tahun 3 bulan (632 – 634 Masehi atau 11 – 13 Hijriah). Pada usia 63 tahun, tepatnya 22 Jumadilakhir 13 Hijriah/23 Agustus 634 Masehi beliau wafat setelah mengalami sakit yang cukup lama. Ketika sakitnya semakin parah, Abu Bakar menyadari bahwa waktu untuk menghadap Allah Swt. semakin dekat. Oleh karena itu, beliau mulai memikirkan siapa yang akan menggantikannya sebagai khalifah. Setelah bermusyawarah dengan para sahabat, beliau menunjuk Umar bin Khattab sebagai calon khalifah selanjutnya. Ibrah utama dari kepemimpinan Abu Bakar Sidik adalah keteguhan dalam menegakkan kebenaran dan keberaniannya dalam menghadapi tantangan, seperti ketika menghadapi gerakan kaum murtad dan nabi palsu. Beliau juga menunjukkan keteladanan dalam keikhlasan dan kesederhanaan, serta tidak menggunakan kekuasaannya untuk kepentingan pribadi dan selalu mengutamakan kesejahteraan umat.
Sumber buku : Fifi Nur Rokhmah. (2025). Sejarah Kebudayaan Islam Kelas X . Kementerian Agama RI.